




Cast: Nakamura Kaho, Hongo Kanata, Ninomiya, Yamamoto Yusuke, Shida Mirai.
Genre: romance
Tittle: tada, kimi wo aishiteru
Soundtrack: Otsuka Ai-Renai Shashin
Pagi hari, rumah Kaho---
“Kaho…cepat turun! Yusuke dan Mirai sudah menunggu di bawah.” Teriak Nino dari tangga.
“Iya kak, sebentar lagi aku turun.” Teriak Kaho dengan cepat. Tak lama kemudian, dia turun dengan tergesa-gesa. Karena pagi itu, Kaho kesiangan. Dia sampai tidak mandi, karena sudah di tunggu sahabat-sahabatnya untuk berangkat sekolah bersama.
Kaho heran melihat yang datang menjemputnya hanya Yusuke-kun dan Mirai-chan. Karena biasanya yang menjemput Kaho selalu 3 orang. “Nah, ayo kita berangkat!sudah hampir terlambat.” Ajak Yusuke sambil beranjak dari tempat duduknya. Diikuti dengan Mirai.
“Kemana Kanata?” tanya Kaho heran.
“Katanya sih, dia ada keperluan sebentar. Tapi nanti dia tetap masuk sekolah kok.” Jawab Mirai. Kaho masih terdiam dan memikirkan jawaban yang diberikan Mirai.
“Hei, kenapa kamu diam kumako?sudah kalian berangkat sana.” Sapa Nino yang baru saja dari dapur. Kaho tersadar dan segera berangkat dengan kedua temannya.
Jam istirahat, di sekolah---
“Kanata-chan…kau kemana saja?dari tadi malam. Aku hubungi ponselmu, tidak bisa. Tadi pagi juga kau tidak berangkat bersama-sama dengan ku, yama-kun, dan mirai-chan.” Hardik Kaho.
“Kau tahu, aku bosan. Dari dulu selalu bersama kalian. Aku juga ingin bergaul dengan yang lainnya. Bukan maksudku untuk ingin berpisah dari kalian. Tapi, aku ada kepentingan juga yang tidak berhubungan dengan kalian. Jadi sekali-kali saja kita tidak melakukan rutinitas itu boleh kan?” kata Kanata dengan nada dingin. Kaho shock. Dia meyakinkan diri bahwa yang berbicara hal itu bukanlah Kanata yang ia kenal dahulu. Air matanya serasa akan tumpah, Kaho sudah terbiasa dengan Kanata selalu berada di sampingnya. Tiba-tiba Yuri, anak yang menurut rumor itu murid paling cantik, kaya, dan terkenal, memasuki kelas 2-4, dimana kelas Kanata dan Kaho.
“Kanata-chan…ayo ke atap. Kita makan bekal bareng.” Ajak Yuri. Kanata tersenyum senang dan berjalan mengikuti Yuri keluar ruang kelas. Mereka bergandengan tangan. Tak tahan melihat hal itu, Kaho menangis.
Sore hari, ruang ekskul fotografi---
“Kaho-chan…kenapa daritadi kau diam?ada apa?” tanya Mirai. Kaho hanya berkali-kali melihat hasil foto di dalam kameranya, tetapi Mirai tahu bahwa Kaho tidak fokus pada foto-foto tersebut.
“Kanata berubah…dia sudah bosan dengan kita. Dia sudah tidak suka berteman denganku, dengan Mirai-chan, dengan Yusuke-kun. Aku sedih mendengar hal itu. Terlebih dia sekarang dekat dengan Yuri. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah terbiasa dengan keadaan Kanata disisiku. Aku tak ingin dia pergi. Jika dia pergi dariku, bagaimana nasib perasaanku padanya yang sudah aku pendam belasan tahun?” tanyanya dengan mata menerawang. Mirai yang duduk di depan Kaho langsung merengkuh kepala Kumako di bahunya. Agar murid-murid yang lain tidak bisa melihat Kaho yang sedang menangis. Selama setengah jam, Kaho menangis. Semua murid-murid Kitagawa Gakuen sudah pulang ke rumah masing-masing. Sekarang ruangan ekskul fotografi itu sudah tidak ada orang lagi. Hanya Kaho yang masih menangis tenang di bahu Mirai. Tanpa diketahui mereka, di pintu kelas yang sedikit terbuka, Kanata melihat Kaho menangis. Pandangannya tidak tega, dia merasa ingin sekali memeluk Kaho saat itu juga, tapi ada tekanan pula yang membuat dia jengkel dan pergi dari situ.
“Kaho…aku tahu kita sedang bersedih sekarang ini, karena sikap Kanata yang berubah secara mendadak. Tapi, aku juga ingin mengatakan sesuatu. Kalau tidak aku utarakan, nanti takutnya kau malah marah kenapa tidak diberitahu dari dulu.” Kata Yusuke saat perjalanan pulang. Kumako sudah menghilangkan rasa sedihnya saat itu.
“Mau bicara apa Yusuke-kun?” tanya Kaho santai. Mendengar Kaho menanyakan hal itu, wajah Mirai yang berjalan disebelahnya pun bersemu merah.
“Aku berpacaran…dengan…Mirai…” kata Yamamoto. Mirai spontan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Wah, benarkah?!selamat ya kawan-kawanku…sabtu besok, kalian harus traktir aku ice cream ya!” sahut Kaho dengan ceria.
“Hah?kau merestui kami Kumako-chan?” tanya Mirai pada akhirnya.
“Tentu saja!untuk apa tidak merestui?hahaha…”
“Terimakasih ya Kaho-chan ” kata Yusuke. “Kau benar-benar teman yang baik.” Lanjut Yusuke.
Malam hari, ruang makan rumah Kaho---
“Ada yang aneh denganmu hari ini.” Kata Ninomiya pada adik semata wayangnya itu setelah cuci piring.
“Aku tidak apa-apa Onii-san. Tenang saja.” Kata Kaho sok tegar sambil tersenyum yang dipaksakan.
“Ahh…kau tahu, kau ini seperti ibu. Tak pandai berbohong. Ayo ceritakan padaku ada masalah apa!” hardik Ninomiya. Kaho masih tetap diam saja. Dia menundukkan kepalanya, karena tidak ingin wajahnya dilihat oleh kakaknya.
“Hei…kau harus ingat. Selama ibu dan ayah masih bekerja di Prancis, aku yang bertanggung jawab atas dirimu.” Ucap Nino sarat perhatian dengan menyentuh puncak kepala Kaho dengan lembut.
Kaho yang tingginya hanya sebahunya Nino langsung memeluk kakaknya itu dari samping dan menangis lagi. Nino menuntun adiknya itu untuk duduk di kursi makan. Lalu, Kaho menceritakan semuanya. Mulai dari perasaannya samapi kejadian tadi siang.
“Kalau aku jadi kau…aku pasti mengejar Kanata. Aku tidak mau tahu tentang Yuri, atau perkataannya terhadap sahabat-sahabatku dan aku. Aku akan mengejarnya, aku akan bilang semuanya itu kepadanya. Aku akan bilang bila aku sudah terbiasa denganmu disisiku, lalu aku juga akan bilang kalau aku hanya mencintaimu. Tidak ada salahnya kan?terserah kau mau menjawab atau menganggap apa. Yang penting, aku hanya mencintaimu. Ehehehe…kau itu jadi orang santai saja. Buatlah semuanya menyenangkan,dan jangan dibuat malah ruwet.” Jawab Nino panjang lebar setelah mendengar cerita Kaho yang panjang juga. “Sudah malam nih, sebaiknya kau tidur. Besok juga kau harus sekolah.” Kata Nino seraya beranjak dari kursinya dan pergi ke kamarnya.
Keesokan harinya, jam istirahat, atap sekolah---
“Wow…ada apa nih?berani juga ya kau datang ke markas kami.” Kata Yuri saat melihat Kaho datang dari arah tangga.
“Aku tidak ingin cari gara-gara. Aku hanya ingin berbicara dengan Kanata sebentar. Bolehkan Yuri?” tanya Kaho. Kanata sudah akan berjalan ke arah Kaho. Tapi, tiba-tiba dihalangi oleh Yuri dan beberapa temannya.
“Tidak boleh. Kanata milikku. Pasti nanti akan kau curi.” Kata Yuri seakan-akan menganggap Kanata itu play station, dan Kaho itu teman bermainnya yang sangat menginginkan play station tersebut.
“Aku hanya berbicara sebentar. Tidak perlu lama. Kalau Kanata berdiri disitu juga tidak apa-apa.” Kata Kaho percaya diri. “Kanata, aku tidak terima yang kau katakan padaku kemarin. Aku sedih, orang yang selama ini aku sayangi tiba-tiba meninggalkanku.”
“Oh…kau menyuk…”
“Aku hanya mencintaimu. Tak lebih, terserah kau menganggapku apa atau ingin berkata apa. Yang pasti, aku tidak mengharapkan jawaban, karena aku tidak meminta itu. Aku hanya ingin kau tahu…tada, kimi wo aishiteru…dan sejujurnya, aku sudah terbiasa dirimu selalu ada di sampingku. Aku tahu kalau kita nanti juga akan berpisah entah karena apa, tapi aku masih ingin kau ada di sisiku, menemani melihat kembang api, pergi ke festival musim panas, membantu aku mengerjakan PR, dan masih banyak lagi. Sudah, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Terimakasih.” Kata Kaho dengan percaya diri. Namun, Kaho menahan rasa sakit di dalam perasaannya.
Akhirnya Kaho berbalik, berjalan menuju pintu. Kanata tidak tega melihat wajah Kaho. Diputuskannya untuk mengejar Kaho. Yuri berjuang keras untuk menahan Kanata, namun gagal.
“Kaho…tunggu dulu. Aku minta maaf atas tingkah lakuku kemarin. Aku melakukan itu karena terpaksa. Kaho, aku pun sama denganmu. Aku memiliki perasaan yang sama kepadamu. Aku mencintaimu. “ kata Kanata seraya memluk Kaho dengan erat. Yuri melihat adegan itu hanya dengan perasaan jengkel.
“Kanata, aku yang menang taruhan. Apa-apaan kau ini.” Bentak Yuri.
“Yuri…perjanjian aku selalu bersamamu hanya berlaku selama 36 jam. Sekarang sudah jam 3 sore tepat. Jadi hal itu sudah tidak berlaku lagi.” Kata Kanata seraya menunjukkan jam tangannya pada Yuri. Yuri hanya ternganga.
“Ayo pergi…” ajak Kanata. Tanpa ia sadari, Kaho menangis, menangis di bahunya.
“Apa maksud taruhan denga Yuri?” tanya Kaho dengan mata berkaca-kaca dan kebingungan.
“Hei, kenapa kau menangis?ehehe…aku ceritakan nanti saja…” kata Kanata sambil berjalan. Mereka berdua berjalan menuruni tangga, dan meninggalkan Yuri yang masih ternganga atas apa yang dikatakan Kanata kepadanya.
.TAMAT.